Selasa, 23 Agustus 2016, 11:00

5 Budaya Kerja Kemenag: Spirit Membangun Madrasah

noorshofi

Berita tentang capaian prestasi madrasah akhir-akhir ini semakin menggembirakan bagi kalangan pengelola madrasah khususnya. Capaian prestasi terbaru oleh madrasah yang cukup membuka mata sebagian masyarakat adalah diborongnya piala kejuaraan Sekolah Adiwiyata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan untuk tingkat SMP/ MTs kejuaraan tiga besar diraih semua oleh madrasah. Hal ini dapat menjadi salah satu indikator naiknya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.

Anggapan sebagian masyarakat yang menilai bahwa madrasah sebagai second choice bagi orang tua dalam memilihkan sekolah untuk anaknya pun berangsur-angsur mulai menipis. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke madrasah saat penerimaan siswa baru. Beberapa madrasah bahkan hampir membuang separo pendaftar karena ketatnya seleksi dalam pemenuhan kuota calon siswa baru.

Peluang dan kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat ini sayang untuk disia-siakan. Tekad dan semangat untuk menjadikan peluang dan kepercayaan ini sebagai cambuk untuk menjadi yang terbaik tidak ada salahnya untuk dipupuk dan ditumbuhsuburkan. Sehingga cita-cita Madrasah Lebih BaikLebih Baik Madrasahtidak hanya sekedar sebuah slogan.

Sebagai sebuah lembaga, maju mundurnya madrasah tentu tidak terlepas dari orang-orang yang duduk di dalamnya. Dalam buku Great Spirit Grand Strategy Corporate Philosophy, Leadership Architecture, and Corporate Culture for Suistainable Growth karya Arief Yahya (2013 : 4 6) dikatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan sebuah organisasi, lembaga, perusahaan, masyarakat, atau negara adalah memiliki keunikan (unique differentiation) yang tidak dimiliki oleh lainnya. Mereka berbeda karena mereka memiliki karakter kuat dan mulia yang bersumber dari budaya organisasi, lembaga, perusahaan, masyarakat, atau negara tersebut dan telah berakar kuat serta senantiasa tumbuh subur dari generasi ke generasi. Character building menjadi pekerjaan pertama dan utama bagi seorang pemimpin sebuah organisasi, lembaga, perusahaan, masyarakat, atau negara tanpa kecuali kementerian agama (baca : madrasah).

Budaya kerja yang telah dicanangkan oleh kementerian agama yakni integritas, profesionalitas, inovatif, tanggungjawab, dan keteladanan adalah salah satu keunikan yang tidak dimiliki oleh lembaga lain. Lima budaya kerja yang telah dimiliki oleh kementerian agama tersebut dapat dijadikan sebagai guideline membangun karakter orang-orang yang ada di madrasah. Hal ini merupakan modal sekaligus sumber keunggulan bagi madrasah.

Program lima budaya kerja Kementerian Agama diluncurkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin pada Kamis (6/11/2016) di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng 3-4, Jakarta Pusat dan dihadiri oleh Sekjen Kemenag Nur Syam, para pejabat eselon I dan II, serta pendiri training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Ary Ginanjar.

Ide merancang lima nilai tersebut bermula dari keinginan untuk mengembalikan citra baik kementerian agama di mata publik yang dibuktikan melalui kinerja yang baik serta upaya pelayanan kepada publik berbasis akuntabilitas dan transparansi dengan didukung oleh pelayanan ikhlas dari seluruh pegawainya.

Integritas dapat dimaknai sebagai sebuah konsep yang menunjukan adanya konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang.Profesionalitas mencerminkan kompetensi dan keahlian. Seseorang yang memiliki kompetensi dan keahlian lebih berpeluang mendapatkan hasil yang optimal dalam pekerjaannya. Inovasi diartikan sebagai budaya kerja yang tidak terjebak pada rutinitas/ monoton, budaya kerja yang senantiasa memunculkan ide-ide baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Tanggung jawab bermakna adanya rasa memiliki seseorang terhadap pekerjaannya sehingga resiko apapun yang timbul akan ditanggungnya. Sedangkan keteladanan mengandung arti bahwa pegawai kementerian agama harus dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya dalam segala hal.

Kelima nilai tersebut sesuai dengan tageline kemenag Ikhlas Beramal. Keikhlasan dalam bekerja akan memunculkan energi dalam diri seseorang untuk selalu memberikan yang terbaik dalam melakukan setiap pekerjaan yang telah diamanahkan padanya.

Pengimplikasian lima budaya kerja kementerian agama yang disertai misi ikhlas beramal adalah suatu keniscayaan jika ingin madrasah menjadi lebih baik. Kelima hal tersebut plus misi ikhlas beramal dapat menjadi spirit, motivasi, penyemangat, dan modal dalam mengemban amanah memajukan madrasah. Sebagai ilustrasi, jika dalam diri setiap individu telah menyatu budaya-budaya : integritas, profesionalitas, inovatif, tanggungjawab, dan keteladanan disertai keikhlasan dalam menjalankan setiap pekerjaan maka akan terkumpul pribadi-pribadi yang memiliki karakter kuat dan mulia. Dan ini merupakan modal dasar dalam memajukan sebuah lembaga (baca : madrasah).

Ketika seluruh pengelola madrasah memiliki misi spiritual ikhlas beramal disertai adanya spirit untuk mengaplikasikan lima budaya kerja tersebut saat mengemban amanah maka tidak mustahil lompatan besar akan terjadi, lompatan berupa lahirnya madrasah-madrasah yang benar-benar mampu mencetak generasi-generasi yang unggul dalam IPTEK dan matang dalam IMTAQ.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Adanya keselarasan (aligment) antara misi spiritual pribadi dengan misi spiritual lembaga dapat memunculkan semangat dan hasil kerja yang luar biasa, karena pekerjaan yang dilakukan dipandang sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Sehingga berbagai upaya akan senantiasa dilakukan untuk mempersembahkan yang terbaik, sebuah totalitas dalam melakukan setiap amanah yang diberikan. Munculnya sebuah karakter kuat dan mulia berawal dari pembiasaan yang mulia pula. Tanpa pembiasaan mustahil karakter mulia akan terwujud. Semua kembali kepada individu masing-masing, dalam hal kemampuan dan kemauan, untuk mengaplikasikannya. Innama al amaalu bi anniyaat.

Noor Shofiyati, S.Pd.

Guru MTsN Lab UIN Yogyakarta