Kamis, 4 Agustus 2016, 15:58

Syawal dan Momentum Revolusi Mental

penulis_bramm

Usai Ramadhan berlalu, setelah pikuk mudik usai--dengan beberapa catatan seperti teror macet horor di Brebes Exit timur (Brexit), kini kita berada di bulan Syawal. Secara harfiah, Syawal berarti peningkatan. Peningkatan dari yang sebelumnya masih kurang optimal beribadah, menjadi lebih rajin beribadah. Dari semula kurang produktif bekerja, kini menjadi sigap dan produktif. Siapapun yang berhasil dengan Ramadhan, maka akan terlihat di bulan Syawal ini. Bukannya kembali tak semangat, loyo, lesu tak bergairah bak kurang darah, momentum Syawal adalah entry point kembali menunjukkan produktivitas. Baik dalam segi bekerja, beribadah, dan berinteraksi dengan orang lain.

Ramadhan yang menjadi bulan madrasah penempaan mental-spritual-jasmani selama sebulan penuh, tentu berdampak bagi diri seseorang. Dampak itu akan terlihat pada 11 bulan berikutnya, terutama pada bulan Syawal. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk menambahi puasa sebulan penuh Ramadhan, dengan enam hari di bulan Syawal. Isyarat apakah ini? Pertama, kegembiraan yang terpancar saat Idul Fitri, hendaklah tidak berlebihan. Karena tiap muslim diminta untuk berpuasa sunah 6 hari usai tanggal 1 Syawal. Apakah ia masih bisa bertahan dengan aneka macam godaan atau tidak? Di saat banyak keluarga yang menyiapkan aneka tumpah ruah masakan nikmat tak tertahankan dan suguhan aneka roti, kue, dan kudapan bermacam selera? Pengendalian nafsu menjadi pelajaran pertama.

Kedua, hikmah puasa Syawal adalah rahasia pahala yang begitu luar biasa. Berpuasa sebulan penuh saat Ramadhan dan 6 hari di bulan Syawal, menurut petunjuk Nabi Saw, seolah bagaikan berpuasa selama satu tahun penuh. Bagaimana hitung-hitungannya? 30 hari di Ramadhan, dikali 10=300 hari; ditambah 6 hari dikali 10=60 hari. Jadi berpuasa Ramadhan dan Syawal ibarat kita berpuasa selama 360 hari atau satu tahun penuh. Tentu saja ini berkah yang luar biasa.

Ketiga, hikmah lain di bulan Syawal--seperti penulis singgung di awal tulisan--adalah saat tepat tingkatkan produktivitas kerja. Kenapa? Karena kondisi fisik maupun mental kaum muslim tengah dalam kondisi terbaik. Syawal merupakan waktu di mana kaum muslim dipenuhi nur (cahaya) Ilahi. Dosa-dosanya dihapus, seperti bayi yang baru lahir, maka langkah dan jejak kaki untuk bekerja tak boleh terhenti. Usai menjalankan pelbagai ibadah di bulan Ramadhan, dilanjutkan mudik di kampung halaman, saling memaafkan dengan sanak famili dan handai tolan, itu semua merupakan syarat lahirnya episode baru kehidupan.

Melihat demikian besar hikmah bulan Syawal, tak berlebihan kiranya jika momentum ini dijadikan tonggak peneguhan kembali Revolusi Mental yang didengungkan Presiden Joko Widodo. Kita berkerja dengan baik, tuntas, optimal dan terus berupaya memberikan sumbangsih kepada nusa dan bangsa. Dalam tataran nasional, hal itu bisa dilihat dari ekspektasi tinggi masyarakat atas terpilihnya Jenderal (Pol) Tito Karnavian sebagai Kapolri baru gantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun. Semoga kepemimpinan Jenderal Tito akan membawa angin segar bagi korps Bhayangkara, khususnya untuk penegakan supremasi hukum di negara kita. Begitu pula bagi masyarakat luas, inilah saat yang tepat untuk meneguhkan kembali revolusi mental di semua lini kehidupan.

Bramma Aji Putra, Pelaksana Subbagian Informasi dan Humas

Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY

Berita Lainnya
Selasa, 18 Oktober 2016, 08:23

Mangayubagya Jamaah Haji DIY: Catatan dan Evaluasi Musim Haji 1437 H / 2016 M

Selasa, 23 Agustus 2016, 11:00

5 Budaya Kerja Kemenag: Spirit Membangun Madrasah