Selasa, 18 Oktober 2016, 08:23

Mangayubagya Jamaah Haji DIY: Catatan dan Evaluasi Musim Haji 1437 H / 2016 M

Kakanwil Prof Nizar

Pada Sabtu (15/10) kemarin bertempat di Bangsal Kepatihan, Pemda DIY akan mengadakan mangayubagya Penyambutan Jamaah Haji DIY 2016. Ada beberapa catatan yang dapat kami sampaikan melalui tulisan pendek ini. Secara umum, alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah SWT serta doa restu dari Gubernur Sri Sultan HB X dan Wagub Sri Paduka Paku Alam X beserta seluruh elemen masyarakat DIY, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2016 secara umum dapat terlaksana dengan baik, lancar dan tanpa halangan yang berarti.

Boleh disebut musim haji tahun ini mengalami peningkatan kualitas pelayanan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi manasik sebagai bekal kepada calon jemaah haji yang dilakukan hingga 10 kali (masing-masing 8 kali di KUA Kecamatan setempat dan 2 kali di Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota); penerbangan yang tahun lalu masih connecting flight, tahun ini direct flight langsung dari Solo menuju Madinah; dan bus-bus sholawat yang mengantar jemaah haji juga di up-grade; serta hotel berkualitas tidak memenuhi standar di evaluasi dan tidak digunakan lagi mulai tahun ini.

Catatan Haji

Lalu apa saja catatannya? Pertama, jumlah keseluruhan jamaah haji DIY yang berangkat pada tahun ini sebanyak 2.480 orang. Tergabung dalam kloter 23-29 SOC. Alhamdulillah, dari seluruh jamaah haji DIY hanya ada satu yang mengalami keterlambatan visa, sehingga yang bersangkutan seharusnya terbang bersama Kloter 25-SOC, dipindah ke Kloter 49-SOC dari Tegal. Dari keseluruhan jamaah haji, ada 4 (empat) orang yang wafat, yakni atas nama Ibu Djumirah Karto Temon yang tergabung dalam Kloter 24-SOC asal Sleman; Ibu Suharjilah Sumo Wiryono dan Bapak Suratman Mudji bin Komowiardjo, keduanya asal Yogyakarta; serta Ibu Sujami binti Adi Sudariwa asal Bantul.

Kedua, masih ada jamaah haji DIY yang melanggar waktu larangan melontar jumroh aqobah, wustho dan ula. Berdasarkan data TPIHI, pada tanggal 10 Dzulhijjah ada 40 jamaah dari Kloter 28-SOC yang melempar pada waktu larangan; kemudian pada tanggal 11 Dzulhijjah sebanyak 231 jamaah Kloter 23; 359 jamaah Kloter 24; 360 jamaah Kloter 27; dan 40 jamaah Kloter 28 yang melempar jumroh pada waktu larangan. Sedang pada tanggal 12 Dzulhijjah, ada 231 jamaah Kloter 23; 359 jamaah Kloter 24; 360 jamaah Kloter 27 dan 320 jamaah Kloter 28 yang melempar jumroh pada waktu yang dilarang. Ini menjadi evaluasi agar para jemaah dapat meningkatkan kedisiplinan dalam melempar jumroh untuk meminimalisir kejadian yang tidak kita inginkan bersama. Apalah artinya mengejar waktu afdhol, yang mana hanya sunnah, jika kemudian mengancam keselamatan jiwa jamaah?

Ketiga, ada 2 (dua) orang jamaah yang sampai awal pekan tulisan ini dibuatmasih dirawat di RS Annur Makkah dan Malik Fahd Hospital di Jeddah. Yakni Ibu Partini Karta Pawiro asal Kloter 24-SOC Kabupaten Bantul dan Bapak H. Abdul Fatah asal Kloter 27-SOC Kabupaten Gunungkidul. Namunalhamdulillah akhirnya diperbolehkan layak terbang dan kembali ke Tanah Air masing-masing bersama Kloter 64 dan 65-SOC pada Rabu 12 Oktober kemarin. Sehingga dari keseluruhan 2.480 orang yang berangkat ke Tanah Suci, yang kembali ke Tanah Air dan berkumpul bersama keluarga sebanyak 2.476 orang. Kita doakan jamaah yang wafat mendapatkan predikat husnul khotimah. Aamiin.

Yang perlu diingat bersama, menggapai predikat haji mabrur tentu tidak mudah. Tidak cukup hanya dengan memenuhi syarat, rukun, serta kewajiban haji semata. Namun bagaimana kita dapat menata hati, iman dan mewujudkannya dalam amal sholeh dalam kehidupan sehari-hari. Transformasi dari kesalehan ritual, menjadi kesalehan sosial inilah yang sekiranya perlu diwujudkan oleh seluruh jamaah haji DIY. Harapan kita bersama agar kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi bagian dari ikhtiar merealisasikan Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur.

Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY