Kakanwil Beri Pembekalan Calon Wisudawan UIN Sunan Kalijaga
Kategori Berita | Diposting pada : 2017-11-14 -|- 05:32:00
oleh adminsuper

Yogyakarta (Inmas DIY)--Setiap orang sukses pasti memiliki kisah suka duka dalam menjalani episode kehidupan. Tidak terkecuali Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Muhammad Lutfi Hamid. Dihadapan 137 calon wisudawan/wisudawati Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Selasa (14/11) di Ruang Teatrikal Fakultas, Kakanwil secara apa adanya menceritakan kisah hidupnya hingga mencapai tangga kesuksesan saat ini.


 


Mengawali ceritanya, Kakanwil mengenang saat dirinya begitu dekat dengan almarhumah ibundanya. "Tiap ketemu, saya selalu ciumi meskipun nanti sering adu argumen dengan beliau," ungkapnya. Kenangan itu terus terpatri kuat hingga kini. "Makanya jika haul selalu saya peringati dengan mengeluarkan jariyah untuk ibu saya," sambung pejabat kelahiran Bantul 5 Januari 1968 itu. 


 


Selepas mondok di Linggapura, Brebes, Lutfi remaja melanjutkan studi di SMP Negeri 2 Yogyakarta. "Saat SMA saya ikuti perintah guru untuk menemani putrinya yang belajar di madrasah pinggiran kota," kenang Kakanwil.


 


Kakanwil melanjutkan cerita masa lalunya yang penuh dinamika. "Meski belajar di madrasah pelosok, tapi saya punya tekad besok harus kuliah S1 dan S2," imbuhnya seraya menambahkan dirinya pernah dua tahun berturut-turut mendaftar di kampus kondang Yogya namun tidak lolos.


 


Ketika dirinya memutuskan kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, tak sedikit yang mencibir. "Bahkan kakak saya sendiri mengolok-olok besok paling banter jadi anggota takmir masjid dan ternak bebek," kata Lutfi.


 


Dengan cibiran itu bukannya mematahkan semangat malah mendorongnya untuk berprestasi. "Saat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga pada semeser 6 saya rajin menulis resensi. Tulisan saya yang dimuat dapat honor Rp 15 ribu sementara uang SPP saat itu Rp 33 ribu," ungkap Lutfi yang dulu kuliah di Fakultas Syariah UIN Suka angkatan 1987. Pada semester itu juga Lutfi muda ikut Dr.Kuntowijoyo meneliti pengaruh pemikiran Kiai Ahmad Rifa'i di Pekalongan.


 


"Ketika wisuda juga biasa saja, bahkan terkesan hambar karena tidak ada yang mengucapkan selamat," kenang Kakanwil lagi seraya menambahkan kemudian dirinya mengikuti seleksi penerimaan calon hakim. "Dan saya tidak diterima," imbuhnya. Lalu dirinya mendaftar pegawai KUA dan diterima. "Inilah perjalanan hidup yang saya yakini semua mesti penuh dengan ikhtiar dan guratan takdir bisa berubah yang mungkin karena amal-amal kita," tandas Kakanwil.


 


"Dari seluruh fragmen cerita di atas, saya ingin menekankan bahwa ibu adalah segalanya," ujarnya. "Kedua, jadikan hidup itu enjoy, jauhkan pikiran negatif," imbuh Kakanwil. Ketiga, menurut bapak tiga anak itu, kita wajib berhusnudzan dengan setiap kebaikan Tuhan.


 


"Tulis saja cita-cita dan impian serta lakukan berbagai amaliyah untuk menaikkan inner power kita menggapai impian hidup," pungkas Kakanwil. (bap)

Bagikan Artikel