Akomodir Peran Kyai dalam Penyusunan DIM RUU Pesantren, Forum Beri Apresiasi Menag
Kategori Berita | Diposting pada : 11 Oktober 2018 | 20:07 WIB
oleh adminsuper

Bantul (Inmas DIY)—Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memastikan akan melibatkan para kyai dan pimpinan pondok pesantren dalam penyusunan Daftar Inventaris Masalah (DIM) RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Hal ini ditegaskan Menag saat bertemu sejumlah kyai dan pimpinan lembaga pendidikan keagamaan di Omah Tembi Cottage, Bantul, Kamis (11/10) pagi.


Sejumlah 30 kyai yang hadir itu tergabung dalam tiga asosiasi, yaitu: Forum Komunikasi Pendidikan Muadalah (FKPM) yang diketuai KH Amal Fathullah (Gontor), Asosiasi Ma'had Aly Indonesia (Amali) yang dipimpin KH Abdul Djalal (Situbondo), dan Asosiasi Pendidikan Diniyah Formal (Apendif) di bawah pimpinan KH Fadlullah (Kaliwungu).


"Para kyai punya peluang berkontribusi dalam membuat DIM yang akan diusulkan pemerintah. Rencana kami, ketika menyusun DIM, sebelum disampaikan ke DPR, akan didiskusikan dulu dengan forum pengasuh," tegas Menag.


"Kami di Kemenag punya tekad bahwa ini momentum kita. Bahwa pendidikan keagamaan adalah basis pendidikan di Indonesia. Ini peluang kita bagaimana negara memberikan pengakuan lebih besar bagi kelangsungan lembaga pendidikan keagamaan di negara ini sehingga kontribusi pesantren juga lebih konkrit,"  sambungnya.


Menag mengaku, saat ini pihaknya masih menunggu draft RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang disusun DPR. Informasinya,  RUU itu akan segera dibawa ke sidang paripurna untuk ditetapkan sebagai inisiatif DPR. Jika itu sudah ditetapkan, maka menjadi tugas pemerintah untuk menyusun DIM berdasarkan draft RUU yang disusun DPR.


Pada tahap penyusunan DIM, kata Menag, maka seluruh masukan dari pesantren dan stakeholders lainnya akan dihimpun untuk dibahas bersama sebelum dibawa ke DPR.


"Jadi RUU yang disusun DPR akan dipersandingkan dengan DIM yang disusun pemerintah," tandasnya.


Mewakili FKPM,  KH Amal Fatkhullah mengaku lega setelah mendapat penjelasan dari Menag. Sebab, aspirasi kalangan pesantren berharap bisa terlibat dalam proses penyusunan RUU tersebut.


Bahkan, KH Amal berharap prosesnya bisa dilakukan seperti saat penyusunan Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.  "Kami berharap selalu dilibatkan seperti saat penyusunan PMA. Kami menilai itu hasil makaimal untuk kita semua," ujarnya. “Kita sudah merasa nyaman dengan PMA. RUU ini diharapkan lebih menguatkan," harapnya. 


Sementara salah satu peserta, Nurdin Lubis yang juga pengasuh Pondok Pesantren Balekambang, Jepara, mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif pihak Kemenag. “Menag Lukman terbukti merangkul dan mengakomodir keinginan kami agar terus dilibatkan, karena pesantren berjasa sangat besar bagi negara dan bangsa ini,” katanya.


Ikut mendampingi Menag, Staf Khusus Menag bidang Komunikasi Hadi Rahman,  Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Ahmad Zayadi,  Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki, dan Kakanwil Kemenag DI Yogyakarta Muhammad Lutfi Hamid. 

Bagikan Artikel