Senin, 23 Mei 2016, 10:59

Kakanwil Kemenag DIY Dari Masa ke Masa

A. Prof. K.H. Farid Maruf (1951-1965)

Farid Maruf dilahirkan dari pasangan H.M. Maruf dan Hj. St. Djuwariyah di Yogyakarta, pada tanggal 25 Maret 1908, tepatnya di kampung Kauman. Di kampung yang memiliki atmosfer keislaman sangat kental inilah Farid melewatkan masa kecilnya. Orang tua Farid, H.M.Maruf menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang wajib diberi pendidikan agama sebaik-baiknya. Oleh karenanya, Farid dikirim ke Pondok Termas untuk memperdalam agama Islam selama dua tahun, kemudian dilanjutkan ke Al-Irsjad Pekalongan dan Jakarta. Pada tahun 1925, dengan berbekal tekad, semangat serta doa orang tua, Farid bersama Abdul Kahar Muzakkir dan teman-teman lain dari Yogyakarta melanjutkan pendidikan ke Mesir. Di sana, Farid menempuh pendidikan di Darul Ulum selama 3 tahun kemudian dilanjutkan ke Al-Azhar Kairo selama 4 tahun.

Selama di Mesir, Farid tidak hanya memperdalam Agama Islam dan Bahasa Arab saja, tetapi juga mempertajam bakat jurnalistik yang dimilikinya dengan menulis karya-karyanya ke dalam majalah maupun surat kabar. Karya-karyanya antara lain dimuat dalam Majalah Al-Balagh dan Seruan Al-Azhar yang terbit di Mesir. Dari kepiawaiannya dalam menulis, Farid memperoleh honorarium yang dipergunakan untuk membiayai studinya.

Dia juga menjadi wartawan di Al-Balagh dan pembantu tetap di Seruan Al-Azhar. Farid yang menguasai beberapa bahasa asing ini yaitu Arab, Perancis, Inggris, dan Belanda, tidak hanya mengirim tulisannya ke harian dan majalah di Mesir, tetapi juga ke media Solo, Indonesia, yaitu di Harian Adil dan Suluh Rakyat Indonesia. Tahun 1946, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, Presiden Soekarno meminta Farid untuk bekerja di staf Kementerian Pertahanan bagian politik (PEPOLIT) dengan pangkat Jenderal Mayor. Farid terpaksa meninggalkan Muallimin yang telah 13 tahun menjadi tempatnya mengabdikan diri untuk mengajar bahasa arab.

Farid merupakan salah seorang yang turut membidani lahirnya IAIN yang dirintis tahun 1949. Dimulai pada tanggal 12 Agustus 1950, Kementerian Agama mengambil alih Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia untuk selanjutnya pada tanggal 26 September 1951 dibuka secara resmi menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Pada tahun 1960, PTAIN digabung dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta. Penggabungan kedua institusi inilah yang kemudian berkembang menjadi IAIN Yogyakarta. Farid Maruf sempat menjadi dosen luar biasa dalam mata kuliah Ethika di IAIN sampai tahun 1963.

Mulai tanggal 1 Januari 1951 sampai 20 Juni 1965, Farid Maruf dipercaya menjabat sebagai Kepala Djawatan Agama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat dekat dan peduli dengan bawahannya. Dia tidak segan berbincang-bincang dengan bawahannya serta memberikan jalan keluar mengenai masalah pekerjaan dan rumah tangga. Apabila ada pegawai yang sakit, dia menyempatkan diri untuk mengunjungi dan memberikan dukungan baik moril maupun materiil.

B. KH. Zuchal Kusumo (1966-1971)

H. Zuchal Kusumo lahir pada tahun 1911 di Kauman Yogyakarta dari sebuah keluarga pejuang kemerdekaan. Ayahnya adalah Ki Bagus Hadi Kusumo seorang tokoh besar dan termasuk tim perumus ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Ayahnya juga termasuk tokoh Muhammadiyah. Darah inilah yang mengalir dalam diri Zuchal Kusumo. Dari lingkungan kampung yang kondusif dan nasab orang tua inilah yang membentuk Zuchal Kusumo menjadi seorang yang gemar belajar agama.

Karena itu pula, pilihan sekolahnya sejak awal sampai lulus pada tahun 1934 tetap di Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian ia diterima sebagai guru agama pada tahun 1936 di Kabupaten Jombang. Dia juga aktif menjadi pengurus Muhammadiyah, Partai Masyumi dan GPII. Keaktifannya ini mengantarkannya menjadi Ketua DPR GR Kabupaten Jombang pada tahun 1961.

Selepas dari anggota DPR GR Kabupaten Jombang, Zuchal Kusumo masuk kembali ke Departemen Agama. Tahun 1964 menjadi Penilik Guru Agama Islam di Kabupaten Jombang. Dua tahun kemudian Zuchal Kusumo diangkat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Agama Provinsi DIY (1966 1970). Selama menjabat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Zuchal Kusumo telah memberikan sumbangan yang cukup berarti. Kontribusi yang diberikan bagi pengembangan Departemen Agama tersebut adalah upaya mewujudkan departemen ini menjadi sebuah departemen yang dapat diterima baik oleh masyarakat maupun oleh instansi lain. Hal ini jelas terkait dengan pada masa itu kantor Perwakilan Departemen Agama Provinsi D.I. Yogyakarta masih ikut nebeng di komplek Pemda DIY yang ada di Kepatihan.

C. K.H. Djuwaini (1971-1975)

Djuwaini bin H. Imam lahir di wilayah Sleman bagian Barat tepatnya di Desa Kedungbanteng Kecamatan Moyudan pada tanggal 3 Juli 1917. Djuwaini kecil melewatkan pendidikannya di SR (Sekolah Rakyat). Selebihnya, pendidikannya diperoleh melalui pesantren dan tabligh school yang diselesaikan tahun 1937.

Pasca kemerdekaan, saat umat Islam memperjuangkan aspirasinya lewat partai politik, Djuwaini aktif di Masyumi. Selanjutnya, dia terlibat aktif di Muhammadiyah. Kiprahnya dalam organisasi dapat dilihat dari sejumlah jabatan yang pernah ia dapatkan. Djuwaini pernah menjabat sebagai wakil ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Di lingkungan masyarakat Islam DIY, ketokohannya sangat menonjol. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama di wilayah DIY.

Selain itu, Djuwaini juga pernah menjabat sebagai Dewan Kurator UII tahun 1972, sebagai anggota dewan penyantun mata RS. Dr. YAP tahun 1973. Di lingkungan Departemen Agama, sebelum menjabat Kakanwil, Djuwaini menjabat sebagai Kepala Djawatan Urusan Agama Kabupaten Bantul. Baru kemudian ia diangkat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Agama.

D. Drs. H. Asyhuri Dahlan (1975-1980)

Lazimnya, tamatan perguruan tinggi pernah menikmati SMTP dan SMTA. Namun tidak dengan Drs. H. Asyhuri Dahlan, Kakanwil Depag DIY yang ke-4. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan menengah atas, namun berhasil menggondol gelar sarjana Hubungan Internasional Fisipol UGM Tahun 1962. H. Asyhuri Dahlan lahir di lingkungan keluarga sederhana dan bersahaja dari pasangan H. Dahlan dan Ny. Dahlan. Pendidikan formalnya diawali dari HIS Muhammadiyah (setaraf SD), lulus tahun 1935. Kemudian dilanjutkan ke Madrasatul Muballighin Muhammadiyah Yogyakarta, lulus tahun 1942. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA/A Yogyakarta, tamat tahun 1952. Berkat kemampuan bahasa asing yang mantap, cukup mengikuti ujian persamaan, tanpa harus masuk SMTA, Asyhuri Dahlan di terima di Fakultas Sosial Politik jurusan Hubungan Internasional dan berhasil meraih gelar sarjana tahun 1962.

Asyhuri mengabdi di lingkungan Departemen Agama sejak tahun 1956 ketika ia masih menjadi anggota DPRD Yogyakarta, kala itu ia menjadi Guru Tidak Tetap PHIN Yogyakarta dari tahun 1956 1960. Sejak tahun 1960, Asyhuri menjadi keluarga besar Depag dengan mengabdi sebagai Guru Tetap PHIN Yogyakarta. Berkat pengabdian dan loyalitas terhadap institusinya, mulai tahun 1967 ia dipercaya menjadi Kepala PHIN Yogyakarta hingga 1974. Pada tahun itu pula, Drs. Asyhuri Dahlan diangkat menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

E. Drs. H. Zubaidi (1980-1981)

H. Zubaidi Badjuri yang lahir di Kotagede Yogyakarta pada tanggal 11 Oktober 1923 berasal dari lingkungan keluarga yang cukup sederhana dan bersahaja dari pasangan H. Muhammad Badjuri dan Halimah Badjuri. Dia mengawali pendidikan formalnya di SD Muhammadiyah Bodon Kotagede, kemudian dilanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Dia juga sempat masuk Pondok Pesantren Tremas, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dan satu angkatan dengan mantan Menteri Agama RI H. Mukti Ali. Setelah selesai di Pondok Tremas, Kakanwil Depag DIY yang ke-5 ini melanjutkan pendidikannya di beberapa perguruan tinggi meskipun tidak dilalui secara terus-menerus, yang diawali di UII Yogyakarta, kemudian UGM, dan terakhir UNTAG Jakarta yang selesai pada tahun 1971.

Dalam karir PNS, Zubaidi yang mempunyai hobby membaca dan jalan sehat ini, mengawali pengabdiannya sebagai staf di Departemen Agama tahun 1955. Selama kurang lebih dari dua puluh tahun ia berpindah-pindah tempat tugas dari satu kota ke kota yang lain. Di sela-sela kesibukannya di birokrasi ia juga masih diminta untuk mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1980 1981). Pada tahun itu pula ia diminta untuk kembali ke Yogyakarta dan memimpin Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama kurang lebih satu tahun hingga tahun 1981.

F. Drs. H. Suyoto Hadiprayitno (1981-1988) Mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi DI Yogyakarta ke-6 ini lahir 15 September 1940. Suyoto melewatkan masa kecilnya di Yogyakarta. Pendidikan dasar (SD) ditamatkan tahun 1953 kemudian dilanjutkan ke PGA selama empat tahun. Tamat PGA, Suyoto melanjutkan ke PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) selama tiga tahun dan langsung masuk ke dunia kerja. Sekalipun sudah bekerja, ia masih menempuh kuliah di Fak. Pendidikan jurusan Ilmu Keguruan, Universitas Gadjah Mada sehingga ia menyandang gelar Bacheloriat. Suyoto diangkat sebagai PNS, tanggal 1 Juni 1960. Selama kurang lebih dua tahun, Suyoto menjadi staf di KUA Kecamatan Jetis menyusul kepindahannya sebagai staf Bagian Aliran Kerohanian selama empat tahun (1962-1966). Pada tahun 1966 ia mulai diberi amanah jabatan sebagai Kepala Bagian Ibadah Sosial kemudian menjadi Kepala Subbag Umum pada tahun 1972. Ia juga pernah menjabat Kepala Bagian Haji pada tahun 1975, dan setelah itu diangkat sebagai Kepala Bagian Sekretariat (sekarang Kabag TU). Baru pada awal tahun 1981 Suyoto diangkat sebagai Kakanwil hingga pertengahan tahun 1989.

G. Drs. H. A. Rosyad Sholeh (1988-1993)

Lahir di Bojonegoro, tanggal 27 Juli 1940, Rosyad Sholeh adalah putra keempat dari pasangan K.H. A. Sholeh Hasyim dan H. Siti Mursyidah dengan tiga orang kakak dan dua orang adik. Kariernya dalam dunia birokrasi, diawali dari perjalanannya yang panjang dalam dunia pendidikan, Madrasah Ibtidaiyah tamat tahun 1953 dan dilanjutkan ke PGAN tamat tahun 1957 yang keduanya diselesaikan di Bojonegoro.

Setelah kembali menjadi pegawai di lingkungan Departemen Agama, kariernya di birokrasi terlihat mulus dan lancar. Tahun 1976, Rosyad menjabat sebagai Kasi Doktik pada Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Depag DIY. Setelah menekuni jabatan tersebut selama 5 tahun, tahun 1981 menjadi Kasubag Umum pada Kanwil yang sama. Kemampuan managerial yang menonjol mengantarkannya menjadi Kepala Kantor Departemen Agama Gunung Kidul pada tahun 1984. Setelah dua tahun di Gunung Kidul, Rosyad kembali ke Kanwil sebagai Kepala Bidang Perguruan Agama Islam dan akhirnya pada tahun 1989 menduduki jabatan tertinggi sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama DIY.

H. H. Muhda Hadisaputro, SH. M.Si. (1993-1999)

Muhda Hadisaputro lahir di Kauman, Yogyakarta tanggal 16 Juli 1940 dari pasangan HM. Muhdi dan Djoharoh. Anak pertama dari 6 bersaudara ini sejak remaja senang dengan dunia olah raga dan seni. Setelah menyelesaikan SR Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta, kemudian melanjutkan di PGAP, tamat tahun 1956. Tahun 1957 beliau lulus SMP Negeri Extranei. Kemudian meneruskan ke PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta yang waktu itu merupakan sekolah dinas milik Departemen Agama, tamat tahun 1960. Satu tahun berikutnya (1961) menyelesaikan SMA Negeri.

Setamat dari PHIN itulah ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan KUA (sekarang Kanwil Depag) DIY. Atas petunjuk Kepala Kantor Urusan Agama DIY KH Faried Maruf, beliau meneruskan kuliah di Fakultas Hukum UGM tahun 1962 dan dirampungkan tahun 1967. Saat itu, kuliah dilaksanakan di Pagelaran (Serambi Keraton Yogyakarta), tidak jauh dari tempat tinggalnya, Kauman. Sejak tahun 1989 Muhda menduduki jabatan sebagai Kepala Sub Dit Kepenghuluan hingga tahun 1993. Sejak tahun ini, tepatnya 7 Oktober 1993, Muhda kembali ke Yogyakarta sebagai Kepala Kanwil Departemen Agama DIY, dengan SK Menteri Agama RI No. B. 11/3/16672/1993 tanggal 13 September 1993, dalam usia 53 tahun, 1 bulan, 28 hari. Jabatan sebagai Kakanwil ini diemban selama kurang lebih lima tahun.

I. Drs. H. Sudijono (1999-2003)

Drs. H. Sudijono bertugas sebagai Kakanwil Depag DIY pada awal reformasi. Ia lahir di Kulonprogo, 5 Desember 1946. Mengawali pendidikan di SRN Temon lulus tahun 1959 kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta lulus tahun 1966 dengan tambahan Ijazah SMP tahun 1963. Tidak sampai di situ, Sudijono kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Ketika masih di bangku kuliah ini, terhitung mulai tanggal 1 Desember 1967 ia diangkat sebagai Pegawai Departemen Agama dan bertugas sebagai guru MTsAIN Tempel (sekarang MTsN). Sekalipun demikian SK pengangkatan ini baru diterima bulan Desember 1969 bersamaan dengan ijazah Sarjana Muda di IAIN. Jabatan Kepala Kantor Departemen Agama Bantul diemban pada tahun 1991 dan di tahun 1997 menjabat sebagai Kepala Bidang Urais Kanwil Departemen Agama Provinsi DIY hingga ia diangkat sebagai Kakanwil Departemen Agama DIY tahun 1999.

J. Drs. H. Ngatidjan NS, MA. (2003-2007)

Drs. H. Ngatidjan Nour Susanto, MA, yang lebih akrab dengan panggilan Ngatidjan dilahirkan di daerah pesisir pantai, tepatnya di Dusun Siliran Karangsewu Galur Kulonprogo tanggal 22 Mei 1948. Ia lahir dari pasangan Mangun Pawiro dan Ngainem, sebuah keluarga petani dan pedagang.

Karir kepegawaiannya dimulai sebagai guru agama Islam SMP Muhammadiyah Dekso Kalibawang Kulonprogo pada tahun 1967 sampai 1971. Guru Agama Islam pada Taman Dewasa Nanggulan tahun 1976. Guru Agama Islam pada SMP Muhammadiyah Tlogolelo Kokap, Kulonprogo sampai tahun 1980. Guru Agama Islam SMEA Muhammadiyah Wates, Kulonprogo sampai 1986. Tahun 1988 ia diangkat menjadi penilik Pendidikan Agama Islam Kulonprogo. Ngatidjan termasuk pegawai yang memiliki jam terbang cukup tinggi. Ia menjelajah di berbagai penjuru daerah di tanah air. Pada tanggal 1 Desember 1988, ia dimutasikan ke Timor-Timur yang kemudian diangkat menjadi Kepala Bagian Sekretariat (Kabagset) Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Timor-Timur, sebuah propinsi yang sekarang sudah lepas dari NKRI. Pada saat itu, Timor Timur adalah daerah tertutup karena dalam kondisi perang. Namun justru karena itu Ngatidjan melihat sebuah tantangan untuk berkarya lebih besar. Sebab itu, ketika saat itu kepadanya ditawarkan beberapa alternatif pilihan tempat untuk dimutasikan, dengan mantap dan penuh keyakinan Ngatidjan memilih Timor-Timur.

Ngatidjan dilantik menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 10 April 2003. Ia merupakan sosok yang tegas dalam memimpin. Selain itu, ia memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembangkan Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu terwujudnya kehidupan yang agamis, penuh kerukunan yang dinamis dan umat yang partisipatif membangun bangsa dan negara Indonesia di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

L. Drs.H.Maskul Haji, M.Pd.I(mulai 22 Oktober 2010 - 4 Maret 2015)

Jika anda berkunjung ke Kanwil Kemenag DIY yang terletak di Jalan Sukonandi 8, Yogyakarta, pastilah cukup dibuat kagum. Pasalnya kantor ini dapat dibilang cukup bersih. Lihat saja lantai lobi Kanwil. Kinclong dan harum bak hotel berbintang. Pendapat ini nyatanya terungkap oleh para tamudari Kanwil Kemenag Provinsi lain, misalnyasaat melakukan studi banding. Ini baru kebersihan. Lainnya yakni kedisiplinan pegawai. Hampir seluruh kegiatan upacara yang melibatkan pegawai dan pejabat di halaman kantor selalu penuh. Bahkan, saat senam tiap Jumat pagi, Kakanwil tak segan-segan mendatangi ruangan unit kerja hingga lantai 3 untuk segera kumpul.

Sisi lain tentang keindahan dan kebersihan taman. Orang nomer satu di jajaran Kemenag DIY itu tanpa sungkan jam 6 pagi sudah sampai kantor. Pak Maskul, demikian akrab disapa, langsung menyiram semua pohon perindang. Membenahi mana yang perlu dipotong dan merapikan segala jenis tumbuhan. Kontan saja, kejadian seperti ini membuat kalang kabut petugas taman, cleaning service sampai Kasubbag Umum yang memang bertanggung jawab memoles keindahan, kerapian dan keasrian kantor. Sikap lain yang tampak menonjol dari pejabat kelahiran Pati (Jateng) 27 Maret 1959 itu adalah dermawan. Pak Maskul tak segan berbagi rezeki kepada semua pegawai. Misalnya saat putra keduanya, Muhammad Dimas Perwira Utama, hendak ikuti tes tahap akhir masuk Akademi Kepolisian di Semarang, tak ayal semua pegawai yang jamaah sholat Ashar diberi Rp 100 ribu per orang. Ini sebagai ungkapan syukur semoga anak saya dapat lolos ke Akpol dan membawa barokah fiddin, fiddunya wal akhirah, katanya waktu itu. Dan saat benar-benar dinyatakan lolos, Kakanwil memberikan bingkisan roti kepada seluruh PNS, PTT dan petugas cleaning service Kemenag DIY. Di kesempatan lain, Pak Maskul tak segan meluangkan waktu berkunjung ke rumah pegawai saat anak buahnya sakit, atau baru saja mendapat momongan.

M. Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag (4 Maret 2015- 17 Februari 2017)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 4 Maret 2015 melantik sejumlah Rektor serta pejabat Eselon II Pusat dan Daerah, mulai dari direktur, inspektur wilayah, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, dan pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Seremonial pelantikan dilakukan di Auditorium HM. Rasjidi, Gedung Kemenag Jl. MH Thamrin dan dihadiri oleh para pejabat Eselon I dan II Pusat.

Termasuk melantik Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. Prof. Nizar menggantikan Drs.H.Maskul Haji,MPdI yang menjabat sebagai Kepala Biro AAKK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Prof. Nizar adalah Guru Besar Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga. Ia adalah Wakil Rais Syuriah PWNU DIY masa khidmat 2011-2016. Tokoh kelahiran Jepara (Jawa Tengah) 21 Maret 1964 ini berdomisili di Perum Pemda A-7 Jalan Dongkelan Gedongkiwo Yogyakarta. Sejumlah program besar dimilikinya untuk kemajuan Kanwil Kemenag DIY.

Berita Lainnya
Rabu, 22 Maret 2017, 16:27

Pengumuman Hasil Tes Tertulis dan Pengumuman Wawancara Penyuluh Agama Katolik Non PNS

Senin, 20 Maret 2017, 16:12

Ketentuan Pengiriman Tulisan untuk Majalah E-Bakti

Sabtu, 18 Maret 2017, 09:14

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Penyuluh Agama Katolik Non-PNS

Senin, 13 Maret 2017, 10:31

Permintaan Pendataan Tanah Satker

Senin, 6 Maret 2017, 13:27

Undangan Pameran dan Bedah Karya MGMP SBP MTs